gambar

gambar

Selasa, 08 Januari 2013

Model Pembelajaran Inductive Thinking

Bismillah, mau share tentang inductive thinking...walaupun belum bisa mengeluarkan teori-teori tapi mencoba menyusun boleh kan ;)
lebih tepatnya sih bukan belum bisa, tapi belum diizinkan kata dosen saya


          Pengertian Model Pembelajaran Inductive Thinking
Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Fajri (2010) (http://vhajrie27.wordpress.com/2010/01/20/inductive-thinking-what-is-that/) berpikir merupakan bentuk kata yang berasal dari kata dasar pikir yang berarti akal, budi, ingatan, angan-angan, kata dalam hati, pendapat (pertimbangan).
Proses berpikir merupakan suatu proses terjadi dalam otak seseorang yang dimana proses tersebut diharapkan menghasilkan sesuatu yang memang belum ada maupun merupakan suatu bentuk inovasi atau pembaruan dari hal yang telah ada.
Dzaki (2009) (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-induktif-struktur.html) model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis.
Dalam kaitannya pada proses pembelajaran di satuan pendidikan dasar di Indonesia,  model berpikir induktif cenderung lebih mudah digunakan pada materi pembelajaran yang masih bersifat konseptual. Ha ini dapat dilihat pada pola dan karakteristik pembelajaran yang merupakan kategori berpikir induktif ini. Namun, tidak menutup kemungkinan aktivitas yang dikembangkan dalam proses pembelajaran akan melibatkan unsur psikomotorik dari peserta didik.

         Hakikat Model Pembelajaran Inductive Learning
Taba dalam Purwanto (2012) (http://herydotus.wordpress.com/2012/03/08/model-pembelajaran-inductive-thinking/) model pembelajaran berpikir induktif sebenarnya merupakan pembawaan sejak lahir dan keberadaannya sudah absah. Ia hadir sebagai suatu revolusioner, mengingat sekolah-sekolah saat ini telah memutuskan untuk mengajar dalam corak yang tidak absah dan sering merongrong kapasitas bawaan sejak lahir.
Uno dalam Purwanto (2012) (http://herydotus.wordpress.com/2012/03/08/model-pembelajaran-inductive-thinking/) model pembelajaran berpikir induktif ini merupakan karya besar Hida Taba. Model pembelajaran berpikir induktif merupakan suatu strategi mengajar yang di kembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi.
Secara singkat model ini merupakan strategi mengajar untuk mengembangkan strategi berpikir siswa. Model ini di kembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1.      Kemampuan berpikir dapat di ajarkan.
2.      Berpikir merupakan suatu transaksi aktif individu dengan data. Artinya penataan kelas, bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
3.      Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang berurutan. Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus di kuasai terlebih dahulu dan urutan tahapan ini tidak bisa di balik.
Baharudin dalam Purwanto (2012) (http://herydotus.wordpress.com/2012/03/08/model-pembelajaran-inductive-thinking/) model pembelajaran induktif merupakan cara yang tepat untuk membantu siswa untuk mendapatkan sebuah informasi penting. Salah satu hal yang perlu dipahami seorang guru berkaitan dengan proses belajar siswanya adalah kompetensi kognitif, kapasitas siswa untuk berpikir abstrak dan strategi mnemonik mereka.
 
         Karakteristik Model Pembelajaraan Inductive Thinking
Fajri (2010) (http://vhajrie27.wordpress.com/2010/01/20/inductive-thinking-what-is-that/) model berpikir induktif meyakini bahwa siswa sebagai peserta didik merupakan konseptor ilmiah. Setiap saat seseorang selalu berusaha untuk melakukan suatu konseptualisasi dalam hal apapun, proses berpikir induktif diperlukan. Model berpikir induktif mempunyai beberapa karakteristik utama antara lain;
1. Fokus
Fokus membantu peserta didik untuk berkonsentrasi pada satu ranah/kemampuan berpikir (bidang penelitian) yang dapat mereka kuasai, tanpa mengecilkan keinginan dalam hati mereka yang jelas membuatnya tidak bisa menggunakan seluruh kemampuan untuk menghasilkan suatu gagasan yang luar biasa.
Hal utama yang perlu dilakukan adalah menyajikan seperangkat data yang menyediakan informasi terhadap suatu cakupan mata pelajaran tertentu dengan meminta peserta didik mempelajari sifat-sifat objek dalam perangkat yang disajikan tersebut.
Dengan fokus terhadap suatu kajian tertentu yang familiar di telinga dan mata peserta didik hal ini diharapkan dapat mendukung dan mencapai proses pembelajaran yang optimal sebagaimana tujuan yang akan dicapai pada standar isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
2. Pengawasan/kontrol konseptual
Membantu siswa mengembangkan kemampuan konseptual terhadap satu ranah/bidang kajian tertentu. Dalam hal ini sebagai contoh yaitu siswa disajikan tentang berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi di Indonesia, siswa akan mengklasifikasikan berbagai kegiatan ekonomi tersebut dalam suatu kelompok/jenis seperti kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi.
Melalui pengetahuan awal peserta didik akan lebih mudah mengembangkan pemahaman dan karakteristik kegiatan ekonomi di Indonesia seperti produsen-produsen yang menghasilkan suatu produk makanan ringan dengan merk tertentu, maupun contoh-contoh praktek penjualan yang bukan hanya barang saja yang dapat didistribusikan sebagai objek jual, namun jasa juga dapat dijual pada proses jual-beli sebagai implementasi pada proses distribusi objek tertentu.
Hal ini akan melatih peserta didik untuk memudahkan proses klasifikasi dan kategorisasi dalam membedakan dan memahami karakter produksi, konsumsi, dan distribusi sekalipun dengan banyaknya objek yang disajikan pada proses pembelajaran di tiap awal pertemuan (apersepsi).
3. Mengkonversi pemahaman konseptual menjadi ketrampilan
Dalam hal proses membangun pemahaman secara konseptual pada proses klasifikasi secara abstrak, peserta didik tanpa disadari tentunya akan melakukan suatu aktifitas yang melibatkan unsur motorik dan tentunya kognitif mereka.
Melalui proses kategorisasi dan pengelompokan ini, peserta didik akan menggunakan tangannya untuk menulis dan memikirkan jenis pengelompokan yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk kegiatan produksi, kegiatan distribusi, dan mana yang termasuk kegiatan konsumsi.
Namun bila dilihat secara global hal ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi seorang peserta didik sesederhana apapun materi pokok yang dipelajari bila tanpa adanya keterlibatan dari peserta didik dirasakan akan kurang optimal sebagaimana prinsip yang dikembangkan para pemikir konstruktivisme.

         Tahapan Model Pembelajaran Inductive Thinking
Tahap – tahap model induktif meliputi empat aspek antara lain dalam Fajri (2010) (http://vhajrie27.wordpress.com/2010/01/20/inductive-thinking-what-is-that/);
1.      Mengidentifikasi dan penghitungan data yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari;
2.      Mengelompokkan objek-objek data menjadi kategori yang anggotanya bersifat umum;
3.      Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori sebelumnya (point 2) sehingga data dapat dimanipulasi secara simbolis;
4.      Mengubah kategori-kategori menjadi ketrampilan/hipotes.

         Implementasi Model Pembelajaran Inductive Thinking pada Pembelajaran Pkn di SD
Di antara sekian banyak model dan strategi serta metode pembelajaran yang pernah ada dan dikupas banyak ahli pendidikan, satu diantaranya adalah model pembelajaran berpikir induktif (learning inductively). Pembelajaran secara induktif banyak digunakan dan diimplementasikan pada pola pembelajaran secara individual, merupakan kelompok model pembelajaran yang memproses informasi, Bruce, et. al. dalam Fajri (2010) (http://vhajrie27.wordpress.com/2010/01/20/inductive-thinking-what-is-that/).
Implementasi metode pembelajaran pemrosesan informasi dengan teknik induktive thinking dapat diimplementasikan pada beberapa materi pembelajaran yang tentunya sesuai dengan karakteristik yang ada.
Berikut implementasi model pembelajaran inductive thinking pada pembelajaran Pkn di SD;
1.      Mengidentifikasi dan penghitungan data yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari;
Dalam mengimplementasikan inductive thinking dalam mata pelajaran, yang pertama kita lakukan adalah mencari materi pembelajaran pkn yang cocok dengan menggunakan model pembelajaran inductive thinking.
Lalu cari data – data yang ada dalam materi yeng berhubungan dengan model pembelajaran inductive thinking  dan juga materi pembelajaran pkn.
2.      Mengelompokkan objek-objek data menjadi kategori yang anggotanya bersifat umum;
Mengelompokkan data khusus yang terdapat materi pkn menjadi data yang bersifat umum, dalam tahap ini diperlukan ilustrasi – ilustrasi yang dimengerti oleh peserta didik.
3.      Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori sebelumnya (point 2) sehingga data dapat dimanipulasi secara simbolis;
Menafsirkan data – data umum tersebut sehingga dapat dimengerti secara nyata oleh peserta didik. Menafsirkan data – data umum tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab kepada peserta didik.
4.      Mengubah kategori-kategori menjadi keterampilan/hipotes.
Data – data umum yang sudah ditafsirkan, dijelaskan kepada peserta didik dan dipelajari lebih lanjut menjadi pengetahuan (pemrosesan informasi.

          Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inductive Thinking
Beberapa hal yang kontras namun perlu diketahui adalah apapun jenis metode yang digunakan pastinya akan ada kelebihan dan kekurangan ketika diimplementasikan pada proses pembelajaran yang berlangsung, Restiana (2009) (http://restianarendi.wordpress.com/2009/12/05/model-belajar-induktif/) menyatakan kelebihan dan kekurangan dari model berpikir induktif ini, antara lain;
o   Kelebihan  Model Pembelajaran Induktif
1.      Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa mempunyai parameter dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
2.      Ketika siswa telah mempunyai gambaran umum tentang materi pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tersebut sehingga pemerataan pemahaman siswa lebih luas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan antara siswa dengan guru.
3.      Model pembelajaran induktif menjadi sangat efektif untuk memicu keterlibatan yang lebih mendalam dalam hal proses belajar karena proses tanya jawab tersebut.
o   Kelemahan Model Pembelajaran Induktif
1.      Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) sehingga kesuksesan pembelajaran hampir sepenuhnya ditentukan kemampuan guru dalam memberikan ilustrasi-ilustrasi.
2.      Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
3.      Model pembelajaran ini sangat tergantung pada lingkungan eksternal, guru harus bisa menciptakan kondisi dan situasi belajar yang kondusif agar siswa merasa aman dan tak malu/takut mengeluarkan pendapatnya. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara sempurna.
4.      Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru harus telah menyiapkan perangkat-perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan metode ini maka kemandirian siswa tidak dapat berkembang optimal.
5.      Guru harus menjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, sehingga peran guru sangat vital dalam mengontrol proses belajar siswa.
6.      Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif bergantung pada contoh-contoh atau ilustrasi yang digunakan oleh guru.
7.      Pembelajaran tidak dapat berjalan bila guru dan muridnya tidak suka membaca, sehingga tidak mempunyai pilihan dalam proses induktif.

         Kesimpulan
Dzaki (2009) (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-induktif-struktur.html) model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis.
Keterampilan tingkat tinggi dan berpikir kritis diasah melalui ilustrasi – ilustrasi yang diberikan oleh guru sehingga memunculkan motivasi peserta didik dalam mengungkapkan pendapatnya, sehingga pemrosesan informasi dalam pembelajaran inductive thinking didapat dari tanya jawab guru dan peserta didik.
Jika dilihat dari sumber yang saya dapat kelemahan model pembelajaran inductive thinking lebih banyak daripada kelebihannya. Menurut saya, apabila seorang guru yang mengimplementasikan model pembelajaran ini dapat mensiasati kelemahan – kelemahan tersebut, tidak hanya tujuan yang akan tercapai namun karakter peserta didik akan diperbaiki karena model pembelajaran ini membangun karaakter peserta didik yang aktif, berani, dan berwawasan luas.

Tidak ada komentar:

Share It

Followers